Rabu, 16 Juli 2008

Kebenaran Absolut

Semenjak dalam usia kanak-kanak manusia sudah terbiasa dengan penggunaan inderanya. Hal itu akhirnya menyebabkan kecenderungan manusia terhadap pemakaian indera dalam menilai banyak hal pun semakin bertambah. Eksperimen merupakan bentuk penelitian inderawi. Namun demikian eksperimen tidak akan pernah berlaku dalam hal-hal yang berkaitan dengan benar dan salah sebuah agama atau mazhab. Karena banyak ajaran agama atau mazhab yang tidak dapat dideteksi melalui proses eksperimen indrawi karena bersifat supra-natural. Jelas, sesuatu yang tidak dapat dieksperimenkan, maka untuk mengetahui kebenaran dan kesalahannya pun tidak dapat melalui jalur eksperimen. Masalah keyakinan-keyakinan dasar agama seperti ketuhanan, kehidupan setelah mati, surga-neraka dan sebagainya tidak mungkin dieksperimenkan.
Kalaupun terdapat permasalahan etika dan hukum-hukum agama yang dapat dieksperimenkan, hal itu hanya berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi belaka, atau mungkin efek inderawi. Sedangkan hubungan etika dan hukum tadi dengan kehidupan setelah kematian, sama sekali tidak dapat dieksperimenkan. Oleh karenanya, untuk mengetahui pandangan dunia keagamaan maupun ajaran-ajaran agama hanya dapat dideteksi melalui jalur syariat yang telah ditentukan oleh ajarannya, serta kita kembalikan kepada sang pemilik kebenaran mutlaq yaitu Allah S.W.T.
Sebagai umat islam kita meyakini bahwa kebenaran Absolut atau kebenaran mutlaq hanya ada pada Allah, karena itu timbul pemahaman bahwa risalah kebenaran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah kebenaran yang absolut pula. sehingga orang-orang yang mendalami ilmu agama islam akhirnya menyadari kebenaran absolut dari Allah dan kemudian dalam implementasinya berusaha untuk melegitimasi apa yang ia pelajari dan ia sadari itu. akibatnya adalah setiap orang yang mendalami ilmu agama berpendapat bahwa mereka kembali pada ajaran Allah berpegang pada Al-Quran dan pengikut sunah Nabi melalui Hadist-hadistnya sebagai kebenaran yang mutlaq menurut yang mereka pahami, tanpa melihat dan mengetahui batasan-batasan dalam memahami makna teks dan kandungannya dalam mengimplementasikan kebenaran tersebut. Sehingga muncul yang kita kenal dengan adanya sekte atau mazhab, yang notabene didasari atas perbedaan penafsiran serta klaim bahwa apa yang mereka pahami adalah benar sesuai dengan zaman yang mereka hadapi


Bahkan yang lebih tragis lagi, ada sebagian kalangan orang yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlaq atau absolute. Kebenaran absolute hanya sekedar fiktif belaka. Namun pada faktanya bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kita anut dalam ajaran islam, bahkan dalam hati nurani kita sebagai manusia, pengalaman kita, dan apa yang kita lihat dalam “dunia yang nyata.” Kalau seandainya tidak ada kebenaran absolutatau kebenaran mutlaq yang dijadikan panduan dalam beragama maupun dalam bermasyarakat, maka tidak ada yang betul-betul salah atau benar mengenai apapun. Apa yang mungkin “benar bagi Kita” tidak berarti “benar bagi orang lain.” Sekalipun di atas permukaan model relativisme semacam ini sangat menarik, kalau ini diteruskan sampai pada kesimpulannya yang logis, akhirnya akan terbukti dapat menimbulkan bencana. Coba pertimbangkan kalau tidak ada setandar kebenaran absolut dan segala sesuatu relatif (tidak ada standar apapun). Pada dasarnya yang terjadi adalah setiap orang menentukan peraturannya sendiri dan melakukan apa yang mereka anggap benar. Ini menimbulkan masalah saat apa yang dipandang benar oleh seseorang bertentangan dengan apa yang dipandang benar oleh orang lain. Contohnya: bagaimana kalau apa yang dianggap “benar bagi saya” adalah melakukan zina dengan istri tetangga? Dengan cara demikian, saya membahayakan hidup orang-orang lain. Atau saya beranggapan bahwa mencuri harta oranglain itu baik dan Anda beranggapan bahwa itu tidak baik. Demikian pula seseorang mungkin saja memutuskan bahwa membunuh orang itu OK dan mulai berusaha membunuh semua orang yang mereka temui. Atau sesorang mungkin mengatakan bahwa ia mendapat wahyu dari tuhan dan diangkat menjadi nabi. Maka ini bukan hanya membahayakan dirinya, tapi juga membahayakan keyakinan oranglain.
Jikalau tidak ada standar yang absolut, tidak ada kebenaran dan segalanya relatif, maka membunuh semua orang adalah sama benarnya dengan tidak membunuh semua orang. Mencuri sama benarnya dengan tidak mencuri. Kejam sama dengan tidak kejam. Yang beribadah sama dengan yang bermaksiat. Betapa bahayanya akibat dari penolakan terhadap setandar kebenaran absolut. Karena kalau tidak ada kebenaran absolut, tidak ada orang yang boleh mengatakan, “Kamu harus melakukan ini” atau “Kamu tidak boleh melakukan itu.” Kalau tidak ada kebenaran absolut, bahkan mungkin dalam kepemerintahan sendiri tidak dapat atau tidak boleh memaksakan peraturan pada masyarakat. Dapatkah Anda melihat masalah yang akan terjadi? Kekacauan mutlaq terjadi saat setiap orang melakukan apa yang benar dalam pandangan mereka. Jikalau tidak ada kebenaran mutlaq, tidak ada standar benar atau salah yang harus kita pertanggungjawabkan, kita tidak akan pernah pasti mengenai apapun. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan – membunuh, memperkosa, mencuri, berbohong, menipu, dll. dan tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa semua itu salah. Tidak akan ada pemerintah, tidak ada hukum, tidak ada syariat, dan tidak ada keadilan karena orang bahkan tidak bisa mengatakan bahwa mayoritas berhak untuk membuat dan memaksakan hukum pada minoritas. Dunia tanpa yang mutlaq adalah dunia yang paling mengerikan.
Zaman sekarang kita sering mendengar kalimat seperti “itu mungkin benar untuk kamu tapi tidak untuk saya.” Bagi mereka yang berpandangan bahwa tidak ada standar kebenaran absolut, kebenaran dipandang tidak lebih dari sekedar kegemaran pribadi atau sebuah sudut pandang, dan karena itu tidak boleh melampaui batasan-batasan pribadi. Karena itu tidak ada jawaban akhir terhadap makna hidup dan tidak ada harapan untuk hidup sesudah mati dalam bentuk apapun. Bentuk relativisme semacam ini mengakibatkan kekacauan dalam agama, karena tidak ada satu ajaran agamapun yang benar, tidak ada satu jalan untuk memiliki hubungan yang benar dengan Allah, tidak ada standaraisasi kebenaran mutlaq. Karenanya semua agama salah karena mereka semua mengklaim mengajarkan atau percaya pada semacam hidup sesudah mati, semacam kebenaran absolute.
Begitulah Allah menciptakan dunia ini penuh dengan perbedaan-perbedaan. Namun perbedaan tersebut bukanlah untuk saling berperang, mendeterminasi, mendominasi atau melegitimasi siapa benar dan siapa salah. Tujuan Allah menciptakan perbedaan sederhana saja, supaya manusia saling mengenal, supaya manusia menggunakan akal fikirannya, supaya manusia melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. serta mentaati semua ajaran dan perintahnya yang telah digariskan dalam dua panduan hidup yang apabila kita berpegang kepada keduanya tidak akan sesat untuk selamanya. Kalau tiap-tiap orang yang mempertikaian kebenaran absolut milik Allah sesuai dengan yang ia dan pengikutnya pahami, apakah yang akan terjadi pada dunia kita ini? Kalau tiap tiap orang mengatakan bahwa apa yang ia lakukan dalam ritual keagamaan tanpa didasari dengan dalil yang sahih dari Al-Quran dan sunnah, apa yang akan terjadi dalam tubuh umat islam? Kalau tiap-tiap dari mereka kelak ditunjukkan bahwa semua yang mereka pertikaikan itu bermuara kepada satu, yaitu Allah S.W.T akankah mereka masih bertikai dan berpecah-belah?

Wallahua’lam
prasetyo

Tidak ada komentar: